Select Menu
KABAR TEKNOLOGI GIF


Slider

Travel

Performance

‹
›

Cute

My Place

Olahraga

Racing

Fenomena anggaran pejabat bersumber dari APBD, menjelma ke pemenuhan fasilitas milik pribadi pejabat di Bolaang Mongondow Raya (BMR, mulai terkuak.
Tampaknya, Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) menjadi lokomotifnya. Ini setelah aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) Boroko, menetapkan dua tersangka, SP dan GAS, dalam kasus dugaan korupsi anggaran pelaksanaan pengadaan perlengkapan dan pemeliharaan Rumah Dinas (Rudis) Wakil Bupati (Wabup) Bolmut tahun 2013 berbandrol Rp 930 juta, yang dialihkan ke rumah pribadi Wabup.


KABAR, Bolmut—Pasca penetapan SP dan GAS sebagai tersangka, pihak Kejari Boroko, meningkatkan pengungkapan kasus dugaan tindak pidana korupsi anggaran Rudis Wabup Bolmut ke tahap penyidikan.
Kajari Boroko, Dwiyanto Prihartono SH MH, menyatakan, proses penyidikan berlangsung hingga dua bulan. “Pada pengembangan, kemungkinan besar tersangkanya bisa bertambah,’’kata Prihartono.
Dalam kasus ini, Wabup Bolmut, Suriansyah Korompot SH dan isterinya, Rahma Lulu Patadjenu, telah diperiksa sebagai saksi.
Bagaimana dana pelat merah ini menjelma pelat hitam?. Informasi yang dirangkum KABAR dari berbagai sumber, termasuk di DPRD Bolmut yang pernah menggelar hearing terkait kasus itu, bahwa terjadi kekeliruan nomenklatur atau tata nama anggaran. “Itu (kekeliruan nomenklatur) yang mengapung di hearing DPRD,’’kata Mikdat Yarbo, mantan anggota DPRD Bolmut.
Akan tetapi, dalam proses penyelidikannya, pihak Kejari Boroko menemukan bukti permulaan, tentang adanya tindak pidana korupsi. Kemudian Kejari Boroko menetapkan SP dan GAS sebagai tersangka.
Beredar kabar, proses pengalihan anggaran Rudis Wabup Bolmut ke rumah pribadi Wabup Suriansyah Korompot, selain melibatkan SP dan GAS sebagai pengelola anggaran, atas arahan dari beberapa pejabat Bolmut.
“Beberapa pihak di Bolmut, punya rekaman pengakuan dari pihak terkait anggaran Rudis Wabup, kalau arahan pengalihan dana APBDP 2013 untuk rudis Wabup ke rumah pribadi Wabup adalah arahan dari beberapa petinggi Pemkab Bolmut,’’tutur sumber.
Senada dengan itu, tersangka SP, saat dihubungi beberapa media, menyatakan dirinya hanyalah kuasa anggaran dan bukan pengguna anggaran atau yang menikmatinya. “Disayangkan saya dijadikan tumbal,"ucapnya.
Menurut SP, jika proses ini akan diseriusi, berarti pengusutannya perlu dilakukan hingga keakar dan jangan pandang bulu. SP juga mengatakan kasus ini bakal ramai karena semuanya akan terungkap dari hulu hingga hilir.Nah lho.

(timkabar)


- - - - -
Siapa pemimpin (baca; Bupati) Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) dan Bolaang Mongondow Timur (Boltim) mendatang, sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.Para peminat Bupati di dua daerah ini, hanya boleh berikhtiar. Namun, ikhtisar politik, secerdas apapun, sering kali pula meleset. Tak ada yang bisa melebihi ketetapan Sang Pencipta. Yang tak disangka bisa jadi pemenang. Itulah yang lantas menyembulkan sebutan; Kuda Hitam.

Bak lirik lagu Melayu; Pak Ketipak Ketipung, Suara Gendang Bertalu-talu, Serentak hati bingung, Dalam hati siapa yang tahu (dstnya)… Langkah kuda hitam demikian adanya


KABAR, Utama – Merebut lebih baik daripada mempertahankan. Begitu pepatah dianggap usang. Tapi, dalam banyak peristiwa politik, itu masih dipegang teguh para pelakonnya. 

Tak heran, Petahana Bolsel, Hi Herson Mayulu (H2M) dan Incumben Boltim, Sehan Landjar, belakangan giat  bermuhibah ke komunitas pemilih.
Kantong-kantong suara itu, biasanya terwadahi, berbentuk paguyuban. Misal, Rukun Pogogutat Indonesia Bolaang Mongondow (RPIBM), Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG), dan banyak lagi, tumbuh subur di Bolsel-Boltim, bak jamur di musim hujan.  

Kandidat lain? Langkah mereka nyaris tak terdengar. Sebutlah Sam Sachrul Mamonto. Politisi muda Boltim lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Manado ini, gerakkannya seperti tersembunyi.

Alul, begitu lelaki necis ini disapa, geliat terkininya terkesan low. Pemerhati Pilkada, Harry Mokodompit, menilai aktifitas politik Sachrul Mamonto jelang Pilkada, mengendur. “Barangkali karena saya memantau lewat media massa saja. Mungkin pula dia (Sachrul, red) bermetamorfis atau mengubah bentuk bidak catur kemudian menjadi King,’’tanggap Harry, mahasiswa semester akhir Universitas Janabadra, Yogyakarta.

Namun, akademisi Universitas Pembangunan Indonesia (UNPI) Manado, Mahmudin Kobandaha, menilai sejumlah bakal calon (balon) Bupati Bolsel-Boltim,  sedang pasang kuda-kuda.

“Misal, Abdul Razak Bunsal di Bolsel, diamnya bukan tanpa gerakkan. Semua sedang mengatur strategi dan membaca peluang,’’tuturnya.
Diketahui, Abdul Razak Bunsal (ARB), awalnya menunjukkan gesture tidak berminat maju di Pilkada Bolsel. Politisi Golkar ini, dalam beberapa kesempatan terlihat akur dengan Petahana H2M. Dalam sebuah acara, H2M bahkan menyuapi ARB tumpeng.

Sedangkan Sam Sachrul Mamonto (SSM), beberapa waktu lalu, sejumlah media massa menulis kesiapan dirinya maju ke Pilkada Boltim.  
"Saya siap maju di Pilbup 2015.Tentu pernyataan sikap ini sudah dikaji dengan sangat matang dan melalui berbagai pemikiran yang melibatkan banyak orang termasuk partai saya," kata Ketua DPC PAN Boltim ini.
Sachrul menyatakan aspirasi masyarakat yang mendesaknya untuk maju di Pilbup menjadi pertimbangan penting dalam menyatakan kesiapannya. Sebab selama ini dirinya tetap menahan diri dan tetap fokus pada posisinya sebagai wakil rakyat. "Tentu ini bukan semata keinginan saya, tapi keinginan masyarakat yang sejalan dengan keinginan partai. Sebab memang tahapan sudah sangat dekat, maka saya pun harus segera menyatakan sikap," terangnya.

Dia mengakui selama ini dirinya sengaja menahan diri karena ingin menjaga agar tak terjadi gesekkan di tengah masyarakat dan antar sesama calon.
Sehingga dia belum secara terbuka menyatakan kesiapannya.
Optimisme ke Pilkada Bolsel juga diutarakan ARB. “Pada prinsipnya khusus kader Golkar tentu siap, namun demikian saya masih menunggu mekanisme Partai Golkar,”singkat ARB.

Salah satu pengurus Partai Golkar, Rafik Mokodongan, menilai ARB layak diusung ke Pilkada.

“Komitmen pak Abdul Rajak Bunsal sudah teruji,sehingga kami, dari Partai Golkar siap berada di garda terdepan untuk memenangkan bersama-sama seluruh rakyat Bolsel, mulai dari pesisir hingga di ibukota Molibagu,’’katanya.

(timkabar)
- - - - - - - -
 
Add caption

Bupati petahana, bukan lagi momok bagi kontestan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Adanya Datu Ponigad (baca; Pelaksana Tugas Bupati), membuat derajat Petahana dan kontestan lainnya, sama rata.Ini, lantaran UU Pilkada menitahkan; Petahana harus mundur dari jabatan Bupati, enam bulan sebelum pemungutan suara Pilkada.Ibarat kendaraan, Petahana pun Zero!. Nantinya, Gubernur menunjuk seorang Pelaksana Tugas Bupati dari kalangan birokrat, yang akan menjalankan roda pemerintahan daerah, sekaligus mempersiapkan pelaksanaan Pilkada hingga terpilih Bupati devinitif.Kondisi ini membuat Pilkada makin kompetitif. Rakyat bebas memilih. PNS tak lagi dipaksa berpolitik praktis. Kecuali nekad; bak laron menabrak api.

 

 KABAR, Utama – Gong Pilkada Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), tak lama lagi ditabuh Komisioner KPUD setempat, sebagai penyelenggara.

Panji-panji kebesaran para kontestan dan barisan kuat ‘pasukan’ pendukungnya, segera pula tersaji meramaikan pesta rakyat lima tahunan itu.
Strategi politik anyar plus doktrin, yang dianggap ampuh mendulang suara konstituen, dirumus. So pasti, galibnya perhelatan politik, tensi pun akan meninggi. Namun, adu kuat para kontestan dan timnya, bisa jadi justeru pemantik huru-hara. Di poin ini, aparat pengaman tentu tak boleh bablas.
Menilik kekuatan konstestan Kepala Daerah (Kada), beberapa kalangan menilai Petahana masih dihitung utama. Pengamat Pilkada, Mahmudin Kobandaha SH, MH, misalnya, menuturkan, meski kondisi zero di tataran kekuasaan pemerintahan, namun modal dasar finansial, sosial dan politik, dari seorang Petahana, cukup mapan.
“Petahana sudah punya pundi. Lebih mudah melenggang, meski tidak sedang menyetir pemerintahan. Tapi kan politik banyak tikungannya. Juga, saat tidak sedang berkuasa di pemerintahan, ada banyak potensi kekuatan tergerus. Misal, PNS dan aparat pemerintah di Desa, sudah diluar kendali Petahana,’’tanggapnya.

Di banyak peristiwa politik, kontestan yang didukung penuh kekuatan rakyat, bisa menjerembabkan Petahana. Akademisi Universitas Pembangunan Indonesia (UNPI) Manado itu mencontohkan Pilkada 2010 Bolsel, Pilkada 2013 Bolmut dan Pilwako 2013 Kotamobagu.

Dari tiga Pilkada ini, paling dramatis di Bolsel. Pada putaran kedua, Petahana Arudji Mongilong harus mengakui kelebihan adik iparnya, Herson Mayulu. Sedangkan di Bolmut, Petahana Hamdan Datunsolang, dilawan Wakil Bupati Depri Pontoh. Depri jadi kampiun dengan selisih suara signifikan. Akan halnya di Kotamobagu. Djelantik Mokodompit diungguli Wawali Tatong Bara yang menjadi rivalnya di Pilwako 2013.

Namun, menurut Mahmudin, politik tidak selamanya bulat. Banyak terjadi, kemenangan justeru dituai setelah jeda beberapa periode.
“Kontestan yang pernah mengalami kekalahan, secara mengesankan menjadi pemenang pada periode berikut, itu sudah terjadi di banyak tempat,’’paparnya.

Menurutnya, banyak faktor penyebab petahana tumbang. Dari banyak study, tumbangnya Petahana lantaran rakyat jenuh dan menginginkan perubahan. “Pragmatisme pemilih berubah jadi militansi ketika muncul figure yang ditindas. Biasanya, masyarakat pemilih akan menyatu pada figure tertindas,’’tambahnya.

So, tak heran figure-figur Calon Bupati (Cabup) di Boltim dan Bolsel, kini mulai bermunculan. Di Boltim, misalnya, sedang dielus-elus Drs Umar Mamonto, birokrat yang berkarir di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI. Wilayah kerja lulusan Fisip Unsrat angkatan 86 ini, di Balai Pengkajian Pengembangan Komunikasi dan Informatika, meliputi 4 provinsi yakni Papua Barat, Maluku Utara, Gorontalo dan Sulawesi Utara. Umar yang beristeri puteri dari Tutuyan berparas cantik, Dr Velma Buntuan MKes, menyatakan siap maju di Pilkada Boltim.  

Selain Drs Umar Mamonto, sejumlah birokrat, akademisi dan pengusaha asal Boltim yang berada diluar daerah, juga sedang membidik kursi bupati Boltim.
Bahkan, rival Sehan Landjar di Pilkada 2010, Sehan Mokoagow, juga mulai dijagokan warga. Banyak menilai, pada Pilkada lalu Sehan Mokoagow hanya membuat 1 kesalahan saja, yakni keliru memilih papan II.
Elektabilitas Mokoagow masih akan terdongkrak, karena emosi Pileg dan Pilkada kali ini dianggap agak beda. “Itu bisa diperbaiki di Pilkada 2015,’’kata Aziz, warga Boltim.

Akan halnya di Bolsel. Para petarung Pilkada 2010, seperti Arudji Mongilong, Ahmad Yani Suratinoyo (AYS), kabarnya mulai bergerilya. Secara gamblang, Arudji memang belum menyatakan sikap maju ke Pilkada. Namun AYS, jauh-jauh hari sudah memproklamirkan diri di media social (medsos), bakal menantang Petahana Herson Mayulu.    


Sementara, di tengah geliat para kandidat bakal calon bupati (balonbup) Bolsel mengais dukungan, beberapa warga Bolsel mengapungkan beberapa figure alternative. Diantaranya Aditya Anugrah Moha (ADM) dan Anugrah Beggy Gobel (ABG), digadang warga agar maju ke Pilkada. “Jika para senior masih malu-malu, maka kita coba junior,’’kata Muthalib, warga Bolsel. Nah lho!.

(timkabar)
- - - - - - - - - - -
 Sehan Landjar
Pasca tersingkir dari daftar calon peserta Fit and Proper Tes (FPT) bakal calon Ketua DPC PDIP Boltim, Bupati Boltim, Sehan Landjar bukan menjauh dari publik, sebagaiman dikira segelintir orang. Seperti biasa, Eyang, sapaan akrabnya, tetap meluangkan waktu dengan santai menyambut tetamu. Tak kecuali KABAR yang mewawancarainya, Senin (23/02/2015) di Tutuyan, Bolaang Mongondow Timur. Berikut petikannya;

  
KABAR: Apa kabar pak Bupati?

Eyang: Alhamdulillah, sehat, baik (ramah, sambil menebar    senyum khasnya)

KABAR: Ada penilaian publik, bahwa Eyang cenderung tidak tetap dalam menentukan partai sebagai tempat berkarir

Eyang: Publik siapa yang menilai?, soalnya kemana-mana warga meminta saya untuk gunakan KTP lewat jalur independen. Undang-Undang juga kan memungkinkan itu. Namun semua itu tergantung saya mau lewat apa? Kan lewat jalur independen juga belum pasti. Nanti  kita lihat saja  perkembanganya. Lagian itu kan haknya saya lewat jalur mana? tapi pada dasarnya untuk sementara ini, saya akan menyelesaikan tugas saya dulu, kan belum selesai periode pertama.

KABAR: Lebih baik mana, seorang kepala daerah berpartai atau independen?

Eyang: Keduanya baik, tinggal tergantung dari kepala daerah itu sendiri, mau berpartai atau independen


KABAR: Karir eyang di politik bermula di Partai Bintang Reformasi (PBR), melalui PBR terpilih menjadi anggota DPRD di Gorontalo. Dengan koalisi partai juga Eyang diusung ke pilkada Boltim dan dipilih rakyat menjadi Bupati Boltim. Artinya, partailah yang menjadi kendaraan Eyang menuju jabatan politik. Sekarang apa Eyang merasa terlambat menentukan partai sebagai kendaraan utama menuju pilkada berikutnya, atau Eyang punya pilihan lain selain menggunakan kendaraan partai?

Eyang : Tidak ada yang terlambat?, dan soal saya mau di partai politik mana, itu adalah hak saya. Tapi sejauh ini saya masih belum menentukan sikap mau gunakan partai mana. Tapi memang sudah ada partai yang menawarkan untuk digunakan sebagai kendaraan ke Pilbup, seperti Partai Hanura, PKB, Partai Demokrat, Partai Nasdem, PKS. Dan jujur sejauh ini sudah ribuan KTP rakyat yang mau di kasih, jika saya lewat jalur independen. Tapi saya masih belum nyatakan sikap


KABAR: Konsekuensinya Eyang tidak bersegera menentukan partai, berimbas pada dukungan politik anggaran di DPRD. apa ini sebuah ganjalan bagi pemerintahan Eyang sekarang ?

Eyang : Selama ini tidak ada yang mengganjal pemerintahan Bersemi. Semua baik-baik saja dan bahkan ada teman saya Bupati yang ada di Gorontalo, Hamim Pou seperti saya, tapi pemerintahannya sampai kini baik-baik saja. Jika DPRD mengganjal, berarti harus berurusan dengan rakyat, karena mereka adalah wakilnya rakyat dan saya ini menjalankan tugas karena rakyat, jadi aman-aman saja.
DPRD juga kan bukan raja, mereka juga selalu diawasi rakyat dan semua 20 anggota legislative Boltim mendukung program, jika ada yang dikoreksi itu biasa, karena itu tugas DPRD.


KABAR: Bagaimana dukungan Fraksi PDIP di DPRD pada pemerintahan Eyang, yang tak lain kadernya adalah wakil Bupati yang mendampingi Eyang ?

Eyang : Bukan hanya Fraksi PDIP di DPRD mendukung program pemerintah Bersemi, tapi semua fraksi di kantor DPRD mendukung program pemerintah

KABAR: Bagaimana hubungan, komunikasi Eyang dengan Wakil Bupati Medy Lensun ?

Eyang : Soal hubungan saya dengan adinda Medy Lensun baik-baik saja, tidak persoalan, komunikasi juga lancar tak ada kendala


KABAR: Jauh sebelum blusukan populer, Eyang bisa dikata kepala daerah pertama yang melakukan itu. Program apa yang sudah ditujukan kepada rakyat kecil sebagai aplikasi dari blusukan Eyang selama ini ?

Eyang : Soal blusukan itu memang sudah sifat saya sejak dulu, dan itu tidak dibuat-buat. Karena jika dibuat-buat akan kaku pastinya. Soal program kepada rakyat kecil, banyak  yang sudah saya lakukan seperti bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) untuk warga yang tak ada rumah, dan yang ada rumah kemudian dibuat sehingga layak untuk ditempati, dan masih banyak lagi. Karena intinya rakyat ini banyak keinginan, dan itu harus direalisasikan oleh kepala daerah, karena sudah menjadi tanggung jawab kita sesuai yang tertera dalam visi misi Bersemi

KABAR: Sebagai Bupati, Eyang nyaris tidak menggunakan protokoler yang membatasi Eyang. Karena itu rakyat, siapa pun, dengan leluasa bisa menemui Eyang dimana saja. Barangkali itu yang kemudian membuat segelintir orang menjadi rewel ketika Eyang pada waktu tertentu tak bersua. Ataukah saking dekatnya dengan masyarakat, lalu aspirasi yang ditangkap Eyang ditafsir sebagai janji, apakah Eyang merasa seperti itu ?

Eyang : Kita ini dipilih oleh rakyat. Jadi jika ada rakyat yang datang mengeluh, itu hal biasa dan harus ditolong. Karena itulah intinya Demokrasi. Dan soal janji itu memang sudah seharusnya, karena warga banyak maunya dan harus dipenuhi semua, karena ada uang rakyat yakni APBD. Tinggal dilihat anggarannya, cukup tidak memasukkan permintaan rakyat selama lima tahun ini. Indonesia saja sudah 69 tahun merdeka dan sudah triliunan dana yang telah habis. Tapi belum semuanya terpenuhi keinginan rakyat, karena keinginan rakyat ini variatif. Contohnya, jika Anda tanya sama warga A yang mempunyai kepentingan dan terpenuhi keinginannya, pasti dia katakan puas. Namun jika Anda tanya sama warga B, pasti dia katakan belum, karena keinginan itu bervariasi tergantung orangnya

KABAR: Boltim sekarang sudah berubah jauh dibanding sebelum mekar dari Bolmong. Perubahan besar terjadi di kepemimpinan Eyang sekarang. Apa yang Eyang rasakan masih kurang, yang perlu dibangun atau dibenahi ?

Eyang: Kurangnya masih banyak, karena setiap hari pasti banyak kebutuhan masyarakat, tak akan pernah habis. Siapa pun kepala daerah yang akan menjabat di Boltim nanti. Seperti yang kalian lihat selama ini, sudah banyak yang saya buat dan itu demi rakyat Boltim. Nanti rakyat yang menilainya. Namun itu semua masih belum seberapa, karena masih banyak yang harus dikerjakan. Dan 95,8 persen program itu di visi misi Bersemi sudah berhasil. Bahkan saya mau, diakhir masa jabatan, saya akan jabarkan dimuka umum, dihadapan masyarakat, sudah sejauh mana progres kegiatan pemerintah.
Coba Anda lihat, di daerah mana dalam waktu empat tahun sudah 240 Kilometer  jalan perkebunan

KABAR: Apa keinginan Eyang pada rakyat Boltim ?

Eyang : Keinginan saya masih banyak, dan jika dipilih untuk kedua kali, saya akan buat Boltim seperti kota Manado. Namun itu tergantung dana, karena untuk merubah Boltim seperti Kota Manado dananya harus besar dan bertahap. Karena untuk merubah sesuatu bukan seperti yang dilakukan oleh jin dan jun? (terkekeh)

KABAR: Jika diberi amanat untuk memimpin pada periode kedua, apa yang dipikirkan Eyang demi kemajuan Boltim ?

Eyang :  Jika diminta, dibutuhkan rakyat Boltim saya siap. Bergantung 57 ribu pemilih rakyat pemegang hak kedaulatan.  Dan jika tidak dibutuhkan lagi, tidak masalah. Pekerjaan juga masih banyak. Bahkan jika ada tawaran kepada saya untuk memberikan kuliah umum, datang di rumah kopi jadi instruktur rakyat kecil ndak masalah.


(modrik)
- - - - - -
PEMILIHAN Bupati (Pilbup) di Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), digelar serentak tahun ini.

Sebagai Petahana, Eyang—sapaan Sehan Landjar, Bupati Boltim, dan Oku—panggilan Herson Mayulu, Bupati Bolsel, diprediksi masih digdaya.
Logika terbalik, ketika menilik riwayat ‘perang’ Eyang dan Oku merebut tahta Boltim dan Bolsel di Pilbup lalu. Sulit dipercaya dua tokoh ini akan jadi kampiun.  
Hanya dengan modal sosial, Eyang dan Oku menjungkirbalikkan prediksi banyak pengamat yang meragukan keperkasaan mereka, kala itu. Eyang dengan akronim Bersemi dan Oku berjargon MaDu, akhirnya menduduki singgasana di daerahnya.

Lalu, akankah nalar pemilih tergiring pada kondisi Eyang dan Oku sebagai Petahana? Ataukah berbalik pada logika kala Eyang dan Oku belum apa-apa?

KABAR, Utama – Bukan hanya soal Eyang dan Oku sebagai Petahana. Melainkan ‘kendaraan’ politik yang akan menghantar mereka kembali ke tahta, menjadi perbincangan khalayak Boltim dan Bolsel, bahkan publik Bolaang Mongondow Raya (BMR), akhir-akhir ini.

Paling anyar pula, tentang ‘Datu Ponigad’ (baca; Plt Bupati) nanti dari kalangan birokrat, yang akan ditunjuk Gubernur, bukan muskil bakal menggerus kekuatan sementara Petahana tanpa mahkota, Eyang dan Oku, terutama dukungan di kalangan pemilih PNS.

Soal kendaraan politik, publik mahfum, bak jejaka, Sehan Landjar dalam posisi melamar. Mengingat Eyang bukan sebagai Ketua Partai. Sedangkan Herson Mayulu bak menyetir kendaraan pribadi, karena dirinya Ketua DPC PDIP Bolsel.
Namun, beredar kabar, Eyang kini sudah plong. Syarat 20 persen dukungan parpol, sebagaimana dititahkan UU Pilkada, bakal didonasi Hanura dan Nasdem. Kenapa Hanura?, karena isteri Sehan Landjar, Nursiwin Dunggio adalah Penasihat DPC Hanura Boltim. Sementara sokongan Nasdem, disebut-sebut berasal dari Pimpinan DPP yang merapat ke Eyang.

“Hanura dan Nasdem sudah mengikat komitmen mengusung Eyang, itu sudah direstui DPP masing-masing,’’kata sumber di Boltim, Senin (23/02/2015).
Kekuatan Eyang dan Oku, juga akan ditentukan pasangannya. Soal ini, tampaknya belum begitu digubris.

“Fokus Herson dan Sehan sekarang ini adalah menghitung kekuatan lawan,’’kata akademisi asal Bolmong di Manado, Mahmudin Kobandaha SH, MH.
Siapa saja mereka, sejauh ini belum muncul ke permukaan. “Jika menghitung jumlah fraksi di DPRD Bolsel, sedikitnya tiga pasangan Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) yang bakal bertarung. Begitu pula di Boltim,’’tambah Kobandaha.

Namun, secara personal, Bakal Cabup yang menggadang maju ke Pilkada Boltim dan Bolsel mulai bermunculan. Sebut saja, Ahmad Alheid, Abdul Razak Bunsal, Herry Mamonto, Ahmad Yani Suratinoyo (AYS).
Kendati menolak maju ke Pilbup, nama Sam Sachrul Mamonto, Ketua DPRD Boltim, terus meroket. Akan halnya Medi Lensun yang menyatakan siap berpasangan dengan siapa saja.


Menurut Harry Mokodompit, mahasiswa Universitas Janabadra Jogjakarta, pemunculan figur-figur ini bukan urusan ringan bagi Petahana. “Kalau ditarik ke belakang riwayat perjuangan dua Petahana yaitu Eyang dan Om Oku di Pilkada lalu, hampir semua orang pesimis mereka akan terpilih. Begitu juga dengan figure-figur yang akan maju di Pilkada 2015. Semua pasti bisa membaca kecenderungan masyarakat pemilih, termasuk para calon Bupati,’’tanggapnya.

(timkabar)  
- - - - - - -

>  Kontras dengan Wacana Kekurangan Tenaga Pendidik-Kesehatan 


KABAR, Bolmut – Wacana jika Bolmut masih kekurangan tenaga guru dan tenaga kesehatan, nampaknya tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Buktinya, setiap dilakukan roling di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolmut, sejumlah tenaga guru dan kesehatan diangkat menjadi pejabat struktural.
Lihat saja yang terjadi pada roling yang dilaksanakan pada Rabu (11/2) pekan lalu. Badan Pertimbangan Jabatan dan Pangkat (Baperjakat) yang dikomandani Sekretaris Daerah (Sekda) Bolmut Drs Reky Posumah MSi, masih merekomendasikan tenaga guru dan kesehatan untuk menjadi pejabat struktural.

Menanggapi hal tersebut, Arifin Bolota S.PdI, pemerhati pendidikan di Bolmut, menyatakan, jika memang seperti ini maka Pemkab Bolmut tidak perlu lagi pada setiap tahunnya mengusulkan kepada Pemerintah Pusat agar mendapatkan kuota Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). “Jika seperti ini bisa disimpulkan bahwa tenaga guru maupun kesehatan jumlahnya sudah lebih dari cukup alias mubazir, oleh karena itu tidak perlu lagi pada setiap penerimaan CPNS kedua tenaga ini diusulkan kepada Pemerintah Pusat,” papar Bolota.

Pun demikian Bolota berharap kepada para guru dan tenaga kesehatan yang dilantik menjadi pejabat structural, bisa bekerja dengan baik dan memberikan pelayanan kepada masyarakat demi terwujudnya proses pembangunan yang mensejahterahkan rakyat.

“Kami berharap tenaga guru maupun kesehatan yang dilantik menjadi pejabat structural, bisa melayani masyarakat dengan baik, sebab sebagai PNS harus ditempatkan dimana saja, walaupun dilihat dari segi keilmuan yang mereka miliki tidaklah sejalan dengan jabatan yang mereka dapatkan pada roling yang dilakukan oleh Pemkab Bolmut,” harap Bolota.

(Nanang)
-

Suriansyah Korompot

KABAR, Bolmut - Keikutsertaan Wakil Bupati (Wabup) Suriansyah Korompot SH, dalam Fit and Proper Test (FPT) yang dilaksanakan oleh Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulut pada Senin (16/02/2015), me
ngisyaratkan jika orang kedua di jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolmut tinggal selangkah lagi akan menjabat Pimpinan Cabang PC-PDIP Bolmut periode mendatang.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan Sekretaris PC-PDIP Bolmut Edy Pontoh, ketika menghubungi awak media ini. "Salah satu kandidat yang akan ikut FPT adalah pak wabup, dan ini merupakan kehormatan besar bagi partai namun demikian semuakandidat yang ikut bertarung punya peluang yang sama," terang Pontoh.

Disinggung soal keikutsertaan Wabup, Pontoh menjelaskan jika sampai dirinya (wabup,red) yang diberikan amanah maka seluruh kader partai berlambang kepala banteng bermoncong putih tersebut tentu akan mendukungnya. "Beliau mempunyai komitmen dalam memajukan partai dan daerah ini, oleh karena itu tentu kami sebagai kader akan mendukungnya, selain itu pula jika pak wabup yang akan memimpin PC-PDIP Bolmut maka tentunya sudah pasti akan banyak bantuan-bantuan yang akan dikucurkan untuk mensejahterahkan masyarakat Bolmut, sebab sebagaimana kita tahu bersama sekarang ini presiden Republik Indonesia merupakan kader PDIP," tambah Pontoh.

Terpisah Suriansyah Korompot SH, ketika dimintai tanggapannya menyatakan jika memang dirinya diamankan untuk memimpin PDIP Bolmut maka dirinya siap mengemban amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. “Ini merupakan amanah yang sangat berarti bagi saya, dan jika pada akhirnya akan diamanahkan tentu saya akan menjalankan dengan baik,” terang Korompot.


Ditambahkannya lagi jika dirinya telah diamanahkan maka proses pemerintahan dirinya bersama bupati Bolmut Drs Depri Pontoh tetap akan berjalan sebagaimana yang telah diamanahkan oleh seluruh rakyat Bolmut. “Proses kepemimpinan saya bersama pak bupati tetap berjalan semestinya, sebab ini sudah menjadi komitmen kami dalam membangun Bolmut,” pungkasnya. 

(Nanang)
-